Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 10 Januari 2011

KALENDER BAKU PRANATA MANGSA
Oleh : Nur Hidayatullah
A. Pendahuluan
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram, itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah : 36)
Refleksi perdaran bumi mengelilingi matahari adalah perubahan kedudukan tahunan matahari di langit, yang menimbulkan pola perubahan musim tahunan. Fenomena regular (periodik) tahunan akibat perubahan kedudukan matahri itu, menyebabkan perubahan musim di belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, dari musim panas, gugur, dingin, semi, panas lagi, atau perubahan musim di Indonesia dari musim penghujan ke musim kemarau.
Begitu seringnya pengulangan kedudukan matahari yang selama ribuan tahun itu, manusia menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya, akhirnya nenek moyang kita pun juga membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut.
Ketetapan waktu (kalender) yang dibuat nenek moyang kita akan hal di atas disebut dengan nama Pranata Mangsa. Pranata Mangsa inilah yang akan kita bahas dalam makalah ini.

B. Ruang Lingkup Masalah
Begitu menariknya mengkaji Pranata Mangsa, maka dalam makalah ini, saya akan mengedepankan poin-poin yang berkaitan dengan hal itu, antara lain :
 Pengertian Pranata Mangsa
 Sejarah lahirnya Pranata Mangsa
 Metode dan Cara Perhitungan Pranata Mangsa
 Keterkaitan watak seseorang dengan pranata mangsa, dan pandangan Islam akan hal tersebut
 Apakah Pranata mangsa besifat lokalitas atau global ?
 Relevansi Hadis Rasulullah dengan sistem pertanian ala Pranata Mangsa
 Pengaplikasian sistem Pranata Mangsa pada saat sekarang
 Apa faedah yang dapat kita ambil ’ibrah dari Pranata Mangsa ?


C. Pembahasan
1. Pengertian Pranata Mangsa
Pranata mangsa (bahasa Jawa, berarti "penentuan musim") adalah semacam penanggalan yang berkaitan dengan musim menurut pemahaman suku Jawa, khususnya dari kalangan petani dan nelayan. Pemahaman yang mirip seperti ini juga dikenal oleh suku-suku lainnya di Indonesia, seperti suku Sunda dan suku Bali (dikenal sebagai Kerta Masa), atau di beberapa tradisi Eropa, seperti pada bangsa Jerman (dikenal sebagai Bauernkalendar, atau "penanggalan untuk petani"). Pranata Mangsa berasal dari dua kata, yaitu Pranata yang berarti aturan, dan Mangsa yang berarti musim atau waktu. Jadi Pranata Mangsa adalah aturan waktu yang digunakan para petani sebagai penentuan atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Hal ini dipelopori oleh seorang raja Pakubuwono VII dan dimulai sejak 22 Juni 1856. Contohnya melaksanakan usaha tani seperti bercocok tanam, atau melaut sebagai nelayan, merantau mungkin juga berperang. Biasanya digunakan oleh para petani pedesaan, yang didasarkan pada naluri saja, dari leluhur yang sebetulnya belum tentu dimengerti asal-usul dan bagaimana uraian satu-satu kejadian di dalam setahun. Walau begitu bagi para petani tetap dipakai dan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Pranata mangsa adalah aturan waktu musim, yang berdasar pada solar kalender. Mungkin kalender Pranata Mangsa ini termasuk dari 40 sistem kalender yang oleh sebuah studi tahun 1987 digunakan di dunia dan dikenal dalam pergaulan internasional. Tapi kalau kita spesifikasikan lagi, maka hanya dikategorikan ke dalam tiga mazhab besar, yaitu sistem kalender masehi (syamsiah) atau solar calendar, kalender qomariah (lunar calendar), dan lunisolar.
Dengan kata lain kalender Pranata Mangsa mengacu pada sistem kalender yang perhitungannya berdasarkan pada perjalanan bumi saat melakukan revolusi mengorbit matahari. Oleh karena itu kalender Pranata Mangsa juga mengenal tahun kabisat dan basithah yang dikenal dengan sebutan wastu dan wuntu. Hal itu dilakukan sama persis dengan sistem kalender syamsiah agar tetap sinkron dengan tahun tropis (musim). Untuk menjaga sinkronisasi inilah, jumlah harinya disisipi dalam bentuk tahun kabisat atau leap year sebagai tambahan pada jumlah hari rata-rata kalender tersebut.
Dilihat dari informasi di atas kita tahu bahwa raja tersebut prihatin dengan apa yang terjadi di masyarakat, keprihatinan beliau tersebut didukung dengan semangat dan pengetahuan beliau tentang iklim yang berlaku di aderah indonesia, Raja yang membuat penanggalan seperti ini adalah raja yang cerdas. Disini pula kita mengambil sampel bahwa masyarakat indonesia adalah masyarakat yang agraris yang dikenal rajin.


2. Sejarah lahirnya Pranata Mangsa
Mengenai pembahasan ini, saya akan memasukkan sumber aslinya, yaitu kitab primbon ”Qamarussyamsi Adammakna”; Pranata Mangsa puniku petangan mangsa wawaton lampahing suz. Petangan punika dede barang enggal, wiwit kina-makina inggih sampun wonten. Ing taun masehi 1855 potongan wau kabangun malih saking mangsa kasa (mangsa 1, dhawah ing suraya 22 juni 1855. menggah jengkapi sataun wonten ing wekasaning mangsa : Sadha (mangsa 12), dhawah surya 20 juni 1856. Dados pranata mangsa taun : 1 jangkep umur dinten.
Peteangan taun pranata mangsa wau, manawi dhawah taun wastu (taun lak) umur 365 dinten (mangsanipun kawolu umur 26 dinten), dene dhawah taun wuntu (taun panjang), umur 366 dinten dene pratelan kados ing ngandhap punika.
Dari uraian bahasa Jawa mengenai Pranata Mangsa di atas dapat pahami bahwa Pranata Mangsa diambil dari sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka. Menurut sejarah, sebetulnya baru dimulai tahun 1856, saat kerajaan Surakarta diperintah oleh Pakoeboewono VII, yang memberi patokan bagi para petani agar tidak rugi dalam bertani, tepatnya dimulai tanggal 22 Juni 1855 titik balik matahari pada musim panas, penanggalan ini dipakai di daerah tropis seperti di jawa dan bali.
Kalau kita mengkilas balik sedikit ke belakang, kita akan menemukan bahwa pada awalnya sebelum adanya kalender jawa, masyarakat masih menggunakan sistem penanggalan saka hindu yang berdasarkan pergerakan matahari. Kemudian pada tahun saka hindu 1554 atau bertepatan dengan tahun 1933 M, raja mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penanggaln matahari menjadi sistem bulan seperti kalender hijriah. Perubahan penanggalan tersebut berlaku untuk seluruh pulau jawa dan madura, kecuali banten, batavia, dan banyuwangi (blambangan). Hal tersebut terjadi karena ketiga daerah tersebut tidak termasuk dalam wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan sultyan agung ini.
Perubahan kalender jawa dilakukan pada hari Jumat Legi saat tahun baru saka 1555 dan bertepatan dengan satu muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M. Pergantian sistem ini tidak mengganti hitungan tahun saka 1555 yang sedang berjalan menjadi tahun 1, melainkan meneruskannya. Hitungan tahun tersebut berlangsung hingga saat ini.
Pada tahun 1855 M, karena penanggalan bulan dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani untuk bertanam, maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan matahari yang disebut sebagai pranata mangsa diperbaharui oleh Sri Paduka Mangkunegara IV. Penanggalan yang telah diperbaharui tersebut ditetapkan secara resmi. Adapun nama-
nama pranata mangsa tersebut sebagai berikut :

Daur kalender baku Pranata Mangsa
No Hamaning Mangsa Waktu Mangsa Umur
Wastu Wuntu
1 Kasa (kartika) 22 Juni – 1 Agustus 41 41
2 Karo (poso) 2 Agustus – 24 Agustus 23 23
3 Katelu 25 Agustus – 17 September 24 24
4 Kapat (sitra) 18 Sepetember – 12 Oktober 25 25
5 Kalima (manggala) 13 Oktober – 8 November 27 27
6 Kanem (naya) 9 November – 21 Desember 43 43
7 Kapitu (palguna) 22 Desember – 2 Februari 43 43
8 Kawolu (wasika) 3 Februari – 28 Februari 26 27
9 Kasanga (jita) 1 Maret – 25 Maret 25 25
10 Kasadasa (srawana) 26 Maret – 18 April 24 24
11 Dhesta (pradawana) 19 April – 11 Mei 23 23
12 Sadha (asuji) 12 Mei – 21 Juni 41 41
365 366

Menggah dhuawahing taun wuntu punika katentokaken saben 4 taun sapisan; dene psangetangipun : menawi angkaning taun kapara 4 pinang ceples, dhawah taun wuntu, kajawi yen angkaning taun wau dhauh atau jejeg.


3. Penjabaran kemulti-fungsian penanggalan baku Pranata Mangsa
a. Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya : lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).
b. Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya : bantala (tanah) rengka (retak). Musim kapok bertunas tanam palawija kedua.
c. Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran). Musim ubi-ubian bertunas panen palawija.
d. Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng jroning kalbu (sumber). Musim sumur kering, kapuk berbuah, tanam pisang. . Pada masa ini kemarau berakhir.
e. Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya) ing jagad. Musim turun hujan, pohon asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda.
f. Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan). Musim buah-buahan mulai tua, mulai menggarap sawah.
g. Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit). Musim banjir, badai longsor mulai tandur.
h. Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin). Musim padi beristirahat, banyak ulat, banyak penyakit.
i. Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara). Musim padi berbunga, turaes (sebangsa serangga) ramai berbunyi.
j. Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya : gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil). Musim padi berisi tapi masihhijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering.
k. Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memanen padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan). Masih ada waktu untuk palawija, burung-burung menyuapi anaknya.
l. Sadha, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya : tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi darisumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin). Musim menumpuk jerami,tanda-tanda udara dingin di pagi hari.
Dari Pranata Mangsa itu diketahui bahwa pada bulan Desember-Januari-Pebruari
adalah musimnya badai, hujan, banjir, dan longsor. Mendekati kecocokan dengan situasi
alam sekarang. telah kita ketahui bersama bahwa jadwal itu sesuai dengan perubahan iklim yang telah kita sepakati bersama.
Selanjutnya pada musim berikut yaitu Kawolu antara 2/3 Pebruari - 1/2 Maret,
bersiap-siaga waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan
hewan, mungkin akibat dari banjir, badai dan longsor tersebut akan berdampak
menyebarnya penyakit, kelaparan dan sebagainya. Hal tersebut masuk akal karena
manusia atau binatang bahkan tanamanpun belum siap mempertahankan diri dari
serangan hama penyakit. Dalam keadaan lemah tersebut dengan mudah penyakit
menyerang kita.
Kaitannya dengan para nelayan, mereka melaut sambil membaca alam dengan
melihat letak bintang yang dianggap patokan yang selalu menemani mereka saat melaut.
Sudah tentu mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa mereka saat yang baik melaut
dan akan mendapatkan ikan banyak. Sebaliknya mereka mengetahui saat-saat tidak
melaut, berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada saat-saat itulah mereka
gunakan waktu untuk memperbaiki jaring-jaring yang rusak, memperbaiki rumah dan pekerjaan selain melaut. Sehingga mereka dapat mengurangi risiko dan mencegah biaya produksi tinggi.


4. Keterkaitan watak seseorang dengan Pranata Mangsa, dan pandangan Islam terhadapnya
Keterkaitan yang dimaksud adalah keyakinan bergantungnya nasib seseorang pada musim Pranata Mangsa tersebut, apakah ia akan menjadi orang baik atau buruk, hal ini diketahui dengan kapan lahirnya seseorang ke alam nyata setelah sebelumnya berada di dalam rahim seorang ibu.
Pranata Mangsa dalam kajian astrologi atau ramalan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Kasa (kartika), candra/ cirinya satya murca ing embanan (mutiara lepas dari pengikatnya). Watak pengaruhnya : dedaunan rontok, kayu-kayu patah di atas. Saat mulai menanam palwija, belalang bertelur. Bayi yang lahir dalam mangsa itu belas kasihan. Gejala alam yang muncul adalah daun-daun berguguran dan bintang beralih. Kondisi meteorologisnya adalah sinar matahari 76%, lengas udara 60,1%, curah hujan 67,2 mm, suhu udara 27,4°C.

b. Karo (puso), candra/ cirinya bantala rengka (tanah retak), watak (pengaruhnya) : tanah retak, tanam-tanam palawija harus dicarikan air, pohon randu dan mangsa tuumbuh daun-daunnya. Bayi yang lahir pada mangsa itu wataknya ceroboh, kotor. Mangsa ini berada di musim paceklik atau puncak dari musim ketiga (masa terang di mana hawa menjadi panas). Pada masa ini manusia mulai resah, karena suasana kering dan panas, rasanya bumi seperti sudah merekah. Watak mangsa ini bantala rengka (tanah retak). Curah hujan pada masa ini turun menjadi 32,2 mm. Lamanya mangsa ini lebih sedikit dari mangsa karo, yaitu 23 hari.
c. Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran). Musim ubi-ubian bertunas panen palawija. Mangsa ini juga masuk musim ketiga. Tak ada yg dapat dibuat manusia kecuali pasrah sambil berharap semoga masa ini segera berakhir. Gejala yang dialami adalah sumur mengering dan angin berdebu. Namun curah hujan naik pada masa ini naik menjadi 42,2 mm. Masa ini berlangsung selama 24 hari.
d. Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng jroning kalbu (sumber). Musim sumur kering, kapuk berbuah, tanam pisang. . Pada masa ini kemarau berakhir. Kondisi meteorologisnya adalah sinar matahari 72%, lengas udara 75,5 %, curah hujan 83,3 mm, suhu udara26,7°C. Masa ini berlangsung selama 25 hari
e. Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya) ing jagad. Musim turun hujan, pohon asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda. Watak mangsa ini adalah pancuran mas sumawur ing jagad (pancuran mas berhamburan di bumi). Curah hujan naik pada mangsa ini naik menjadi 151,1%. Gejala pertama mangsa ini adalah turunnya hujan yang tidak begitu deras. Mangsa ini berlangsung selama 27 hari.
f. Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan). Musim buah-buahan mulai tua, mulai menggarap sawah. Alam mulai menghijau dan hati manusia merasa tentram. Manusia diundang untuk ikut merasakan kesucian di mana watak mangsa ini rasa mulya kasucen (rasa mulia yang berasal dari kesucian). Mangsa ini berada pada musim udan. Curah hujan menjadi tinggi yaitu 402,2 mm. Lamanya mangsa ini adalah 43 hari.
g. Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit). Musim banjir, badai longsor mulai tandur. Pada mangsa ini matahari ada di zenit garis balik selatan bumi (22 desember). Mangsa ini berada pada musim rendheng atau puncak dari musim udan. Watak mangsa ini adalah wisa kentar ing maruta (bisa terbang tertiup angin). Sinar matahari menjadi 67%, lengas udara 80%, curah hujan 501,4 mm, suhu udara 26,2 %. Musim ini dikenal juga sebagai musim datangnya penyakit dan alam ditandai dengan adanya banjir. Alam pada masa ini kelihatan kurang bersahabat namun sesungguhnya sedang menyimpan berkah panen yang sedemikian kaya. Gejala yang sering dialami adalah musim kawin binatang-binatang dan hujan besar yang disertai kilat. Mangsa ini berlangsung selama 43 hari.
h. Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin). Musim padi beristirahat, banyak ulat, banyak penyakit. Mangsa penuh harapan. Kendati awan selalu berawan dan kilat terus menyambar semasa hujan, manusia tidak merasa diliputi rasa takut karena di balik itu kehendak manusia terasa menyegar bersama turunnya hujan yang dahsyat. Watak mangsa ini adalah anjrah Jroning kayun (sesuatu sedang merebak di dalam kehendak). Curah hujan turun pada masa ini turun menjadi 371,8 mm. Hujan menjadi tidak terlalu berbahaya lagi dan masa ini berkisar 26/27 hari.
i. Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara). Musim padi berbunga, turaes (sebangsa serangga) ramai berbunyi. Mangsa yang berlangsung selama 25 hari ini berada dimana curah hujan turun menjadi 252,5 mm.
j. Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya : gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil). Musim padi berisi tapi masihhijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering. Sinar matahari menjadi 60%, lengas udara 74%, curah hujan 181,6 mm, suhu udara 27,8°C. Gejala yang muncul adalah awal perkembangbiakan atau masa di mana binatang bertelur dan berabak. Pada masa ini orang mudah lesu dan pusing karena sebentar lagi mau musim kemarau.
k. Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memanen padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan). Masih ada waktu untuk palawija, burung-burung menyuapi anaknya. Jatuh pada musim panen. Curah hujan menurun menjadi 129,1 mm. Gejala yang kerap dialami adalah burung-burung mulai menetas, alam dalam hal ini mulai menunjukan daya ciptanya lagi. Kesuburan seakan diasah lagi, kendati kemarau sudah diambang mata.
l. Sadha (asuji), candra/ cirinya tirta sasana (air pergi dari tempatnya). Watak (pengaruhnya) musim dingin, jarang orang yang berkeringat. Usai panen. Bayi yang lahir dalam masa it wataknya cukupan.
Kalau kita kaitkan dengan kitab primbon betaljemur, Pranata Mangsa termasuk salah satu keterampilan orang jawa dalam keahlian selain dari pada kalender Jawa Islam, ramalan tentang nikah, bangun rumah, dan lain-lain.
Dari situ kita tahu bahwa orang jawa itu berbudaya, dan sulit dipaksakan untuk meninggalkan kebudayaan dan corak tradisi mereka.
Sejauh penelitian literatur yang saya temukan bahwa tradisi petungan jawa merupakan tradisi budayaa kejawen. Tradisi budaya petungan jawa ini hingga dewasa ini masih kuat dipegangi oleh orang-orang kejawen, terutama di kalangan tua. Tradisi petungan (perhitungan) jawa, sebagaimana astrologi atau ilmu nujum, dasar perhitungannya tidak lepas dari peredaran alam, khususnya peredaran matahari. Perdaran matahari menimbulkan ada siang dan malam, ada hari, minggu, bulan, dan tahun. Setiap ketentuan waktu itu diberi nilai dengan sistem angka, yang dikaitkan secara magis dengan sifat baik dan buruk. Orang jawa (kejawen) mencoba membuka tabir rahasia tuhan dengan jalan titen (teliti) dan niteni (memperhatikan) peristiwa-peristiwa yang sama, yang terjadi berulang-ulang dengan jalan memberi tanda pada hari apa dan jam berapa peristiwa itu terjadi. petungan jawa ini dikaitkan dengan kelahiran, jodoh, dan pati seseorang, sealin itu juga petungan jawa dilakukan pada masalah kehidupan manusia lainnya seperti masalah yang berkaitan dengan keberuntungan usaha ekonomi dan usaha dagang, masalah membangun rumah, menempati rumah, pindah rumah, dan lain-lain. Kebiasaan ini selanjutnya melahirkan petungan jawa.
Melihat tulisan di atas saya berkesimpulan bahwa kalender pranata mangsa merupakan bagian kecil dari pada petungan jawa. Untuk itu sistem pranata mangsa sudah lebih teratur dan lebih mudah dipahami dari pada sistem penanggalan saka dan tahun jawa, karena sistem angka sudah diciptakan orang jawa sebelum lahirnya pranata mangsa yang pembagian waktu dalam sistem angka itu meliputi detik, menit, jam, hari, wuku (minggu), bulan, tahun, dan windu.
Demikian uraian singkat tentang Pranata Mangsa, yang jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut diatas tentunya harus dicocokkan secara ilmiah, kondisi alam, kemajuan teknologi dan sebagainya.
Nah, adapun pandangan Islam terhadap keastrologian Pranata Mangsa, menurut hemat saya Islam tidak memperbolehkannya, karena sudah berani mengotak-atik atau menentukan kebahagian dan kesengsaraan hidup seseorang, padahal masalah yang berkenaan dengan jodoh, kaya miskin, dan bahagia atau sengsaranya seseorang sudah ditetapkan oleh Allah pada waktu ditiupkannya ruh pada diri seseorang. Dan hanya Allah-lah yang mengetahui akan nasib seseorang. Dan meramal nasib seseorang itu dapat membuat orang yang diramal nasibnya putus asa apabila masa depannya buruk.
Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitan susunannya, sebuah hadis dari Sufyan, dari Salamah, dari Isa bin Ashimbin Dzar, dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata, Rasulullah saw. bersabda : ”Meramal nasib itu syirik dan tidak termasuk golongan kami, tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.”













5. Metode dan Cara Perhitungan Pranata Mangsa

Gambar Pranata Mangsa

Keduabelas musim ini kemudian diklasifikasikan menjadi empat musim umum (lingkaran pertama) yaitu musim kemarau (88 hari), labuh (peralihan pertama : 95 hari), penghujan (94/95 hari), dan musim mareng (peralihan kedua: 88 hari).
Untuk lebih akuratnya penggunaan Pranata Mangsa dalam mengetahui kondisi alam diperlukan perhitungan dalam umurnya, apakah mangsa Kawolu itu berumur 26 atau 27 hari. Hal perlu diperhatikan agar tidak jauh meleset dari perkiraan kita untuk bertanam pada saat itu.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kalender Pranata Mangsa mengacu pada Tarikh Masehi yang umurnya 365 hari 5 jam 48’46” atau ¼ hari dari pada tahun Syamsiah, yang kemudian untuk mempermudah dan tetap benar perhitungannya maka setiap 4 tahun sekali ditambah satu hari. Pertambahan satu hari ini dimasukkan ke dalam bulan Februari.
Kaitannya dengan Pranata Mangsa adalah pertambahan satu hari pada Mangsa Kawolu (wasika) 3 Februari – 28 Februari, jadi mangsa ini berumur 26 hari ketika tahunnya merupakan tahun basithah (wastu), dan berumur 27 hari ketika berada pada tahun kabisat (wuntu).
Ditentukannya, bahwa tahunyang habis dibagi 4 bilangan tahunnya, dijadikan tahun kabisat (wuntu), penanggalan seperti ini terjadi karena kalender Pranata Mangsa juga mengikuti tahun syamsiah (mengikuti kepada Julius Caesar), kecuali tahun-tahun abad; dan yang dimaksud dengan tahun ini ialah tahun-tahun abad yang bilangan abadnya dapat habis dibagi 4 saja, yang menjadi tahun kabisat. Jadi tahun 1200, 1600 misalnya menjadi tahun kabisat, karena bilangan 12 dan 16 itu dapat habis dibagi 4, akan tetapi tahun 1300, 1500, 1700 umpamanya (yang sebenarnya menjadi tahun kabisat juga), menjadi tahun yang biasa saja, karena bilangan 13, 15, dan 17 itu tidak habis dibagi 4.


6. Apakah Pranata Mangsa bersifat lokalitas atau global ?
Prediksi cuaca dan iklim tradisional bersifat lokal, seperti pranata mangsa hanya berlaku untuk masyarakat di Pulau Jawa. Demikian juga dengan cara tradisional lainnya seperti Palontara untuk masyarakat Sulawesi, Kala di Sunda, Porhalaan di Batak, Wariga di Bali. Sistem prakiraan tradisional itu umumnya masih digunakan petani lahan kering (tadah hujan), yang keberhasilan tanamannya sangat ditentukan oleh curah hujan. Saat ini, penggunaan cara tradisional, khususnya pranata mangsa sebagian masyarakat Jawa sudah banyak yang melupakan dan tidak mempergunakan lagi.
Di tengah pesatnya degradasi lingkungan dan lahan-lahan beralih fungsi, gejala alam yang sangat berguna bagi petani mulai susah dijadikan patokan. Sebagai ilustrasi sekarang ini, baru jam 21.00 saja ayam sudah berkokok, padahal dulu biasanya kokok ayam pertama sekitar pukul 00.00. Akibatnya, meskipun pranata mangsa ini masih digunakan, namun acapkali bias dan kurang adaptif, mengingat indikatornya ikut hilang, seiring dengan terjadinya degradasi lingkungan, dampak gas rumah kaca, dan panas global. Saya berkeyakinan bahwa Pranata Mangsa itu bersifat lokalitas dan bukan bersifat global. Karena perhitungan raja hanya memfokuskan objeknya pada masyarakatnya saja, yaitu pada rakyat Jawa, jadi kita tidak bisa mengaplikasikan sistem Pranata Mangsa di daerah abnormal, seperti di kutub, atau negara-negara Eropa, bahkan mungkin di Kalimantan-pun hasil perhitungan baku Pranata Mangsa tidak berlaku sepenuhnya, karena daerahnya dekat dengan katulistiwa dan disana banyak sungai yang mengalir yang berpengaruh terhadap kesuburan tanah.
Meskipun Pranata Mangsa itu bersifat lokal, tidak ada salahnya apabila kita yang berada di kepulauan Indonesia ini menjadikan acuan untuk bercocok tanam, karena letak geografis satu daerah dengan daerah lain masih dalam iklim tropis yang sama.
Anugerah perhitungan Pranata Mangsa seperti ini sudah sepatutnya kita syukuri, begitu juga dengan sistem perhitungan-perhitungan yang lain, seperti kalender pertanian yang dirancang untuk masyarakat Kalimantan oleh Datu Gadung Rantau , Kalimantan Selatan pada awal abad XIX.
Terlepas dari semua itu, adanya aturan sistematis tersebut menunjukkan kemajuan adat dan budaya serta kemampuan orang Jawa untuk menganalisa masalah global dan menafsirkannya dalam bentuk aturan baku. Pranoto mongso, masih dan akan tetap dipakai oleh orang Jawa dalam berbagai aspek kehidupan.

7. Relevansi Hadis Rasulullah dengan Sistem Pertanian ala Pranata Mangsa
Pranata Mangsa merupakan salah satu terobosan jitu yang diinstruksikan sang Raja kepada rakyatnya agar lebih hasil pertanian mereka lebih melimpah dan memuaskan. Hal ini senada dengan sebuah riwayat, yaitu suatu ketika seorang sahabat menanam kurma yang kemudian diberitahu oleh Rasulullah bahwa alangkah baiknya jika cara penanaman yang dilakukan sahabat itu seperti ini dan seperti ini; akhirnya Sahabat tersebut mengindahkan apa yang Rasulullah saw. ucapkan. Wal-hasil, hasil panennya itu tidak sebaik seperti dulu yang pernah ia kerjakan, maka ia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. bersabda : ”Antum a’lamu bi-umuuri dunyaakum”.
Dengan demikian, maka ketidakproduktifan dalam bercocok tanam dapat diminimalisir. Dari hal itu pula kita dapat mencontoh dan meniru sistem seperti apakah yang relevan bagi daerah luar Jawa yang yang berada pada daerah abnormal, dengan catatan setelah penelitian sistematis, ilmiah, dan empiris yang berulang kali.

8. Pengaplikasian Sistem Pranata Mangsa Pada Saat Sekarang
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, Kalender baku Pranata Mangsa pada zaman dulu, digunakan sebagai acuan dalam bercocok tanam, berlabuh di laut, dan lain sebagainya. Selain untuk bercocok tanam kalender baku pranata mangsa ini bisa kita jadikan senagai acuan laku tidaknya perdagangan kita, acuan Pranata Mangsa itu kita jadikan sebagai sumber qiyas. sebagai contoh, pada mangsa Sadha, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Keadaan alam pada saat itu berkedudukan di titik musim dingin, hal ini senada dengan ilmu geografi pada zaman sekarang ini. Dan efek yang timbul pada makhluk hidup khususnya manusia yaitu jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin.
ketika pada musim hujan itulah kita kedinginan, maka sangat tepat sekali apabila kita berjualan switer, payung, jas hujan dilengkapi dengan pengadaan warung kopi atau bakso cinta ala KCB plus dodol garut yang khas.
Lain dari masalah itu semua, kalau kita kaitkan dengan zaman sekarang, sistem pranata mangsa merupakan sebuah alternatif yang membantu para petani dalam bercocok tanam, banyak sebenarnya hal lain yang dapat kita jadikan sebagai pilihan dalam bercocok tanam demi mendapatkan hasil yang lebih, seperti membuka garden house, pengadaan irigasi seperti yang pernah dilakukan syekh muhammad Arsyad al-banjari sepulang beliau dari tanah suci makkah, menggunakan pupuk organik, mencangkok tanaman, dan lain sebagainya.
Upaya raja dalam menunjang suksesnya bertani ala Pranata Mangsa itu dilihat dari letak geografis dan ekonomi. Akan tetapi kalau kita kaitkan dengan zaman sekarang, maka faktor geografi dan ekonomi masih belum cukup, karena kita berhadapan dengan masyarakat yang moralnya mengalami kemerosotan dengan semakin bertambah jauh dari generasi Islam pertama. Kaitannya adalah sosiologi dan antropologi yang berkembang di masyarakat setempat, dengankata lain kerugian bukan saja disebabkan ketidakproduktifannya dalam bercocok tanam akibat hama dan musim, akan tetapi juga disebabkan maling yang mencuri tanaman kita (buah-buahan dan lain sebagainya), maka dari itu untuk merealisasikannya pada zaman sekarang ini perlu dilengkapi keterampilan dan memehami apa yang terkandung dalam kitab primbon bagi orang jawa, bagi orang kalimantan (dayak) dengan memesang jimat agar maling tidak bisa mengambilnya, sementara kita selaku orang muslim dengan memperbanyak doa, solat dhuha, sedekah, bahkan solat istisqa ketika air hujan belum kunjung tiba membasahi lahan pertanian.

9. Hikmah dan ’Ibrah Mempelajari Pranata Mangsa
Tulisan ini bukan bertujuan mengecilkan arti ilmu pengetahuan dan teknologi
modern, melainkan sebagai review untuk kita masyarakat Indonesia yang sudah
berbudaya tinggi dalam mencermati alam semesta sejak ribuan tahun yang lalu dan
sebagai evaluasi untuk mengingatkan kembali sebagai manusia beragama bahwa bumi ini
juga adalah mahluk ciptaan Allah SWT, seperti; matahari, bintang, planet dan benda-benda angkasa lainnya. Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa bumi pun ingin berkomunikasi kepada kita, ingin diperhatikan, ingin dipelihara. Oleh karena itu menjaga dan memelihara lingkungan hidup ini tidak hanya sekedar semboyan atau simbolis saja, lebih penting dari itu bagaimana penerapan di lapangan.
Salah satu hikmah mempelajari Pranata Mangsa ini, kita mengetahui bahwa orang pendahulu kita gemar berhitung, imajinatif dan kreatif. Maka, hal itu menjadi motivasi bagi kita dengan harapan bisa mengikuti tauladan mereka, mungkin dengan menemukan rumus-rumus baru untuk memecahkan problematika yang timbul dan bertumbuh kembang di masyarakat. Selain itu kita dapat menambah peluang sukses dalam bekerja dengan mengkombinasikan antara sistem Pranata Mangsa dan teknologi modern.


D. Penutup
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan, antara lain :
 Pranata Mangsa adalah aturan waktu yang digunakan para petani sebagai penentuan atau mengerjakan sesuatu pekerjaan, hal ini dipelopori oleh seorang raja dan dimulai sejak 22 Juni 1856.
 Pranata mangsa adalah aturan waktu musim, yang berdasar pada solar kalender. Dalam perputarannya, Pranata Mangsa mempunyai dua belas musim, yaitu : Kasa (kartika), Karo (poso), Katelu , Kapat (sitra), Kalima (manggala), Kanem (naya), Kapitu (palguna), Kawolu (wasika), Kasanga (jita), Kasadasa (srawana), Dhesta (pradawana), Sadha (asuji).
 Setiap musim itu menunjukkan tentang bagaimana seharusnya orang bertani, dan usaha lainnya.
 Dalam pandangan Islam ilmu keastrologian yang terkandung dalam Pranata Mangsa tidak diperbolehkan mempercayainya.
 Sistem pertanian ala Pranata Mangsa bersifat lokalitas, tidak bisa digunakan untuk semua daerah yang ada di bumi.
 Sistem bercocok tanam ala Pranata Mangsa ini sesuai dengan konsep yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
 Sistem perhitungan dalam Pranata Mangsa yang berkenaan dengan tasyir diperbolehkan, akan tetapi dilarang dalam hal ta’tsir.
 Pranata Mangsa bukan hanya dapat diaplikasikan dalam hal pertanian saja, akan tetapi dapat pula digunakan dalam perdagangan.
 Hikmah belajar Pranata Mangsa adalah sebagai motivasi bagi kita untuk membuat sistem penanggalan-penanggalan lain yang berkaitan dengan problematika yang ada di masyarakat.
 upaya-upaya pengembangan model prakiraan cuaca dan iklim perlu dilakukan, khususnya dengan cara modern. Upaya pengembangan model tersebut meliputi teknik peramalan, perancangan model, maupun sumber daya manusianya. Upaya lain adalah memadukan cara tradisional (bersifat lokal) dan cara modern (bersifat global) dalam meramalkan cuaca dan iklim, sehingga bisa meningkatkan tingkat akurasi.


E. Daftar Pustaka
Asmuni, Fahrurraji, Cerita Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan, cetakan pertama 2009 Hemat Jaya : Amuntai.
Al-Katami, Abdul Hayyie, Kesesatan Ramalan Bintang li-Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, 2004, Akbar : Jakarta.
Izzuddin, Ahmad, Laporan penelitian “Fiqh Hisab Rukyah Kejawen”, 2006 IAIN Walisongo : Semarang.
Imam, Suwarno Dr S.PT, Konsep Tuhan Manusia Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa, 2005, Rajagrafindo Persada : Jakarta.
Armelia F, Seri Penemuan Kalender, 2009, CV paamularsih Jakarta.
Saksono, Tono, Mengkompromikan Hisab dan Rukyah, 2007, Amythas Publicita : Jakarta.
Soembogo, Wibatsu harianto, Kitab Primbon Qomarussyamsi Adammakna, 1990, Buana Raya : Jakarta.
Sugita, I Made, Ilmu Falak untuk Sekolah Menengah di Indonesia, 1951, J.B Wolters : Jakarta.
http://www.smallcrab.com/others/35-lain-lain/546-peramalan-cuaca-tradisional
http://haleygiri.multiply.com/journal/item/20/Pranata_Mangsa_Kalima
http://id.wikipedia.org/wiki/Pranata_mangsa

1 komentar:

  1. saya melihatnya dari segi sejarah bahwa kemungkinan jauh sebelum islam masuk ke nusantara masyrakat kita sudah mengenal sistem pranata mangsa ini.. dan menjadikan sebagai acuan dalam dalam urusan bertani, nelayan da, sebagainya. pertanyaan saya kira-kira sejak kapan masyarakat kita mulai menggunakan sistem tersebut? (zamannya siapa/ kerajaan siapa)

    BalasHapus