Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 10 Januari 2011

Konsep Persaudaraan dalam Islam

Oleh : Nur Hidayatullah
A. AL-IFTITAH
Kebanyakan manusia menghabiskan keseluruhan hidup mereka dalam "ketergesa-gesaan". Ketika mencapai umur tertentu, mereka harus bekerja dan menanggung hidup diri mereka dan keluarga mereka. Mereka menganggap hal ini sebagai sebuah "perjuangan hidup". Dan, karena harus bekerja keras, jungkir balik dalam pekerjaan, mereka mengatakan tidak mempunyai waktu lagi untuk hal-hal yang lain, termasuk berpikir. Akhirnya mereka pun terbawa larut oleh arus ke arah mana saja kehidupan mereka ini membawa mereka. Dengan demikian, mereka menjadi tidak peka lagi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar.
Termasuk dalam kategori di atas adalah ketidakpedulian seseorang terhadap sesama muslim, sebagai contoh para tikus-tikus berdasi yang duduk di parlemen, mereka ini jelas sekali tidak menghiraukan nasib saudaranya. Banyak rakyat miskin yang terlantarkan, untuk mencari sesuap nasi-pun bagi mereka sulit, pendidikan mereka-pun terhenti di tengah jalan karena persaingan hidup yang ketat. Begitu teganya orang-orang yang tidak menghiraukan saudaranya sesama muslim.
Akan tetapi islam sebagai agama yang sempurna, mengatur segala aspek kehidupan bermasyarakat, merekomendasikan akan hak dan kewajiban yang semestinya diterima seorang muslim.Islam adalah agama yang menghormati dan menghargai HAM. Sebagai pembawa kabar gembira dan ajaran Islam, sejatinya Nabi Muhammad SAW adalah seorang pejuang pembela HAM teragung.
Melihat pentingnya persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, saya mengekemukakan poin-poin penting pada makalah saya ini, di antaranya adalah:
• Pengertian persaudaraan
• Persaudaraan dalam persfektif islam
• Persaudaraan terhadap non-muslim
• Persaudaraan sesama muslim.


B. PEMBAHASAN
1) Pengertian persaudaraan
Secara bahasa Persaudaraan berasal dari dari kata saudara, yang kalau kita buka kamus berarti orang yang seibu sebapa; orang yang bertalian keluarga, sanak; orang yang bersegolongan. Dalam bahasa arab disebut dengan ukhuwwah yang berasal dari kata akh.
Adapun secara istilah, persaudaraan saya artikan sebagai hubungan yang terjalin antara seseorang dengan orang lain atau masyarakat yang mencakup masalah sikap, tindakan, dan sebagainya terhadap orang yang berhadapan dengan dirinya . Baik hubungan itu terjalin dengan harmonis atau sebaliknya. Tanpa definisi-pun kita tahu benar akan arti apa itu persaudaraan, karena Persaudaraan itu telah kita rasakan dalam hidup ini, rasa suka, cinta, sayang, bahkan marah, jengkel, dan buruk sangka mungkin pernah melanda kita.
Menurut saya, pengertian persaudaraan secara umum berbeda dengan persaudaraan sesama muslim (ukhuwwah islamiyah), karena ukhuwwah islamiyah pernah diilustrasikan Rasulullah dengan bangunan yang saling menguatkan antara yang satu dengan yang lain. Jadi, ukhuwwah islamiyah dipahami sebagai persahabatan. Arti persahabatan itu tentulah berbeda dengan persaudaraan menurut adat atau kebiasaan orang indonesia. Sahabat sudah pasti teman, tapi teman bukan berarti sahabat.
Persaudaraan yang dimaksudkan adalah bukan menurut ikatan geneologi, tapi menurut ikatan iman dan agama. Hal tersebut diisyaratkan dalam larangan Allah SWT mendoakan orang yang bukan Islam setelah kematian mereka. Firman Allah SWT : “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman meminta ampun (kepada Allah SWT) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya.” (At-Taubah : 113)


2) Persaudaraan dalam persfektip islam
Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik. Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus
dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan
Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.) (QS. Al-Lail: 19-21).
Memahami situasi masyarakat indonesia bukanlah merupakan pekerjaan yang sederhana. Indonesia memiliki keanekaragaman sejarah, budaya, suku, dan agama yang begitu komplek. Berbicara tentang persaudaraan dalam kacamata islam, islam sangat memperhatikan masalah ini, islam telah mengatur bagaimana seharusnya seseorang bersikap dan bertindak dalam menghadapi lawan interaksinya dengan baik. Tidak hanya mengatur tata cara persaudaraan sesama muslim akan tetapi juga mengatur suatu konsep persaudaraan antar umat beragama yang berbeda keyakinan dan ritualnya dengan ajaran islam. Lebih rincinya persaudaraan dapat dibagi menjadi: 1) persaudaraan antar manusia; 2) persaudaraan sesama muslim.

4) Persaudaraan (ukhuwwah) sesama manusia
Telaah menarik tentang persaudaraan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat adalah nilai yang berkembang di dalamnya, yaitu segi yang membuat suatu konflik dalam masyarakat. Menurut George M. Foster, ada dua segi besar yang terkait dengan konflik yang terjadi dalam masyarakat. Pertama, masyarakat berada pada posisi yang paling tidak sehat atau berbeda pandangan atas sesuatu, termasuk nilai tertentu, disebabkan olek karena adanya penggolongan (fationalisme) berdasarkan parameter tertentu. Misalnya faktor kesukuan, keagamaan, ideologi dan kepartaian.
Kedua, pertentangan timbul di dalam masyarakat, oleh karena adanya perbedaan kepentingan (vested interest). Sebagai contoh, banyak dari perubahan sosial dalam ekonomi yang sedang dipromosikan di dunia dewasa ini, ditafsikan sebagai mengancam situasi keamanan dari kelompok atau wilayah tertentu. Konflik yang ditimbulkan oleh kepentingan, bisa berwujud pertentangan antara pemilik modal uang (peminjam) dengan kredit dan sebagainya.
Islam sebagai agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan, termasuk juga persaudaraan. Persaudaraan sesama umat manusia ini dapat kita lihat bagaimana Rasulullah menghargai dan toleransi kepada ahli dzimmah , terhadap golongan ini, rasulullah melarang umat islam untuk menyiksa dan mencaci-maki mereka. Begitu juga ketika Rasulullah mengajak para sahabatnya agar tidak berlaku kasar kepada kaum kristen koptik. Jadi, dalam bermasyarakat beliau tidak berbuat kasar kepada sahabat-sahabatnya begitu juga kepada orang kafir, beliau melarang kaum muslimin untuk mencaci maki tuhan mereka, karena hal itu akan membuat mereka (orang kafir) mencaci Allah tanpa tahu-menahu. Dengan demikian persaudaraan yang dijalin Rasulullah dengan orang kafir berjalan dengan harmonis, dengan sikap seperti inilah rasulullah disegani oleh kawan maupun lawan, wal hasil banyak orang yang dulunya membenci islam jadi masuk islam dengan senang hati dan gembira.
Kita dapat mengambil contoh tentang bagaimana persaudaraan yang baik terhadap non-muslim, yang sering anak muda tonton adalah film ”Ayat-ayat Cinta”, film ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan baik kepada orang yang berbeda agama. Lebih-lebih kita menyimak hadis nabi yang terucap dari ucapan Fakhrie :”man adzaa dzimmiyan faqod adzaanie, wa man adzaanie faqod adzallaha”
Artinya : ”Barangsiapa yang menyakiti seorang ahli dzimmah, maka ia telah menyakiti aku, dan barangsiapa yang menyakiti aku maka ia telah menyakiti Allah”.
Selain itu juga, persaudaraan yang baik dapat menghindari terjadinya konflik vertikal dan horizontal. Konflik vertikal yaitu pertentangan yang terjadi antara masyarakat atau warga negara dengan penguasa atau pemerintah. Konflik vertikal bisa disebabkan oleh karena ketidakadilan, perbedaan ideologi dan cara menggunakan kekuasaan. Salah satu contoh adalah pertikaian antara AGAM (Angkatan Gerakan Aceh Merdeka) dengan TNI di Aceh. Sedangkan konflik horizontal adalah suatu pertikaian atau ketidaksepahaman antara warga yang satu dengan warga masyarakat lain. Motif atas timbulnya konflik horizontal bisa didorong olrh perbedaan suku, agama, kepentingan dan sistem nilai yang berlaku. Misalnya, konflik masyarakat Dayak dan Madura di Kalimantan Barat, Tenagah dan sekitarnya. Senada dengan itu kerusuhan di Maluku, Ambon dan Poso tergolong pada konflik horizontal.
Konflik yang telah saya sebutkan di atas dapat diminimalisir atau bahkan dieliminasi dengan sekilas mengintip kepada lambang negara, burung garuda yang bertuliskan di pita pada kakinya berpijak, ”bhineka tunggal ika” yang berarti walaupun berbeda-beda namun tetap satu. Beda pendapat boleh asalkan rukun, kata-kata itulah yang sering kita liaht dan dengar di televisi dan spanduk di jalan raya. Cara saling memahami dan membangun wacana dalam perbedaan itulah yang kiata perlukan pada saat sekarang ini.
Kita dapat melihat bagaimana fenomena hubungan kita terhadap umat sedunia sekarang, khususnya dalam hal persaudaraan. Salah satunya adalah usaha pemerintah untuk menelorkan undang-undang anti terorisme, walaupun di dalamnya masih ada kontroversial. Bagi mereka yang setuju, terutama pemerintah, desakan masyarakat internasional untuk membuat rancangan undang-undang terorisme bisa dijadikan jalan pintas pemulihan ketertiban dan keamanan masyarakat, bantuan ekonomi internasional dan sorotan masyarakatt internasional. Meskipun implikasi riilnya yaitu counter produktif tidak bisa dielakkan.
Sedangkan bagi mereka yang tidak setuju, pembuatan rancangan undang-undang terorisme bukan alternatif yang direkomendasikan. Hal tersebut dianggap mendorong terciptanya sistem kekuasaan yang refresif. Konsekuensinya, rancangan undang-undang terorisme lebih terkesan bermuatan politis daripada bermuatan hukum, yaitu mendukung kampanye amerika serikat.
Menanggapi hal di atas kita perlu menyelesaikannya dengan kepala dingin, setelah membaca peristiwa ada apa dengan terorisme, maka yang kita dapat adalah anggapan orang kafir bahwa islam agama teroris, padahal islam bukan agama teroris, tapi ia adalah agama perdamaian yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan. Yang dibolehkan dalam islam adalah apabila orang kafir menyerang kita, maka tidak salah kita membela diri, melawan untuk menjaga kehormatan agama yang mulia ini. Kalau sudah seperti dia atas, kemudian ditambah dengan pemahaman yang matang lagi komprehensif terhadap konsep dan prinsip dakwah, yaitu tidak jemu-jemu dalam menyiarkan agama islam dan juga lakum diinukum wa liya dien. Maka bukanlah musuh yang memusuhi yang kita dapatkan, akan tetapi musuh yang mendukung bahkan ikhlas masuk islam karena sikap persaudaraan yang kita bangun bersama.

5) Persaudaraan Sesama Muslim (Ukhuwwah Islamiyah)
a) Sikap Persaudaraan Sesama Muslim dan Hubungan di Dalamnya
Kesetiaan kepada Allah, persaudaraan, dan solidaritas, adalah sifat-sifat penting orang beriman. Al-Qur'an mengatakan bahwa semua orang beriman adalah bersaudara. Mereka adalah orang-orang yang berbagi perasaan yang sama, berjuang untuk akhir yang sama, mengikuti kitab yang sama, dan berjuang untuk tujuan yang sama. Akibatnya solidaritas menjadi keunggulan alami dari sebuah komunitas orang beriman. Allah memuji kasih sayang orang beriman ini di dalam ayat berikut: “Sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang berjihad di jalannya”. (As-Shaff: 4)
”Berpegang teguhlah kamu sekalian pada agama Allah, dan janganlah kamu berpecah belah. Ingatilah karunia Allah kepadamu, ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hatimu, sehingga kamu dengan karunia Allah itu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka, lalu Allah melepaskanmu dari sana. Demikianlah Allah menjelaskan keterangan-keteranganNya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk”. (Al-Imran: 103)
Taqwa itu berada di dalam dada kita, dalam hati kita sebagaimana Rasulullah Saw. Bersabda : “Taqwa itu disini seraya beliau menunjuk ke dada sampai tiga kali. Hal ini beliau ucapkan sasat mengatakan bahwa antara sesama muslim itu bersaudara, tidak boleh meganiayanya (menzaliminya) membohonginya dan acuh (meremehkan) kepadanya.
Apabila taqwa itu telah menjadi pakaian (libasut-taqwa) setiap orang yang beriman, maka di dalam berkasih-kasihan, cinta-mencintai dan tolong-menolongnya sesama mereka itu laksana satu tubuh yang jika salah satu anggotanya ada yang sakit, sekujur tubuh itu akan ikut merasakan sakitnya sampai-sampai tidak bias tidur dan menjadikan tubuh itu demam.
Hal ini terungkap dalam sabda Rasulullah saw :
Artinya : “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam kasih syang mereka sesamanya, dalam saling cinta-mencintai antara mereka serta dalam tolong-menolong sesamanya adalah laksana satu tubuh, apabila tubuh itu merasa sakit salah satu anggotanya, maka sekujur tubuh akan merasakan sakitnya dengan tidak tidur dan terasa panas” (HR, Bukhari).
Maka dari itu hendaknya setiap muslim ikut merasakan penderitaan saudaranya, dimanapun ia berada, bangsa apapun dia, kita harus ikut solider (setia kawan) ikut merasakan deritanya.
Masyarakat dan kekeluargaan Islam yang harmonis adalah masyarakat yang anggota-anggota keluarganya saling mencintai, saling sayang-menyayangi terhadap sesamanya. Kasih sayang (sayang-menyayangi) adalah perasaan halus dan belas kasihan dalam hati yang membawa kepada berbuuat amalan-amalan memberi maaf dan berlaku baik. Gambaran kasih sayang sesama muslim, terlukis dalam firman Allah surat Al-Fath ayat 29 :
Artinya:“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka”.(Al-Fath:29).
Nabi SAW menekankan pentingnya membangun persaudaraan Islam dalam batasan-batasan praktis dalam bentuk saling peduli dan tolong menolong. Sebagai contoh, Beliau bersabda, “Allah SWT menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya” (H.R. Muslim). Bodoh sekali seorang muslim yang mengharapkan belas kasih khusus dari Allah SWT jika ia tidak memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan muslim lainnya. Sebagai akibatnya, persaudaraan kaum muslim tidak saja merupakan aspek teoritis ideologi Islam, tapi telah terbukti dalam praktek aktual pada kaum muslim terdahulu (salaf) ketika mereka menyebarkan Islam kepenjuru dunia. Kemanapun orang-orang Arab muslim pergi, apakah itu ke Afrika, India, atau daerah-daerah terpencil Asia, mereka akan disambut hangat oleh orang-orang yang telah memeluk Islam tanpa melihat warna kulit, ras, atau agama lamanya.
Contoh kasih sayang sesama muslim antara lain dengan memberikan bantuan kepada Fakir dan miskin, menurut Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mengatakan bahwa kedua golongan ini termasuk di antara delapan golongan yang berhak menerima zakat. Adanya kedua golongan ini dalam masyarakat Islam merupakan suatu pertanda kemiskinan umat, yang harus diperangi demi kesejahteraan hidup mereka di dunia ini. Untuk ini zakat bisa banyak berfungsi bila betul-betul dikelola dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
Demikian pula pilar terbesar Islam, haji, yang mengandung esensi pilar-pilar lainnya, menekankan persaudaraan orang-orang beriman dalam semua ritus-ritusnya. Pakaian bagi orang-orang lali-laki yang sedang haji, dikenal dengan Ihram terdiri dari dua lembar kain, selembar dipakai seputar pinggang, selembar yang lain diselempangkan di atas bahu. Kesederhanaan pakain in dikenakan oleh jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia menunjukan hakekat persatuan dan persamaan dalam persaudaraan Islam.
Lain dari pada itu kita harus saling memahami satu sama lain, jangan membuka aib sesame kita, karena hal itu akan membuat persaudaraan bagaikan kapal pecah. Sebagai contoh, apabila di dalam kereta api kita mendengar orang yang berkentut, maka sebaiknya kita diam saja, karena kasian nasib orang yang berkentut kalau kita beritahu kepada yang lain, ia akan merasa malu setelah melepaskan gas secara diam-diam. Pokoknya kita harus mempunyai seribu satu cara bagaimana memahami orang lain.

b) Sikap persaudaraan sesama muslim dan dunia luar
Orang-orang beriman adalah orang-orang rendah hati yang memiliki rasa persahabatan dan kasih sayang satu sama lain. Karenanya solidaritas dan persatuan diantara mereka terpelihara secara alami. Namun di dalam komunitas semacam ini ada saja hal-hal yang membuat kita tetap harus berhati-hati karena sikap yang salah dapat menyebabkan perpecahan dan menciptakan iklim yang merusak solidaritas di antara orang-orang yang beriman.
Alasan dasar untuk sikap-sikap yang tidak diingini tersebut adalah jiwa (nafsun). Memang benar bahwasanya seorang mukmin itu toleran dan hangat. Namun setiap orang memiliki sisi jahat dalam jiwanya, dan pada saat sedang lemah moral, seseorang dapat dengan mudah dikendalikan oleh sisi jahat jiwanya. Dengan kata lain dia bisa terpengaruh oleh kecemburuan, ego diri, ataupun ambisi.
Itulah sebabnya Al-Qur'an menekankan bahwa pengaruh kuat dari sisi jahat jiwa sebagai ancaman serius bagi persatuan orang beriman. Mengingat bahwa jiwa dapat menunjukkan isyarat setan pada manusia dan dapat menyesatkan orang mukmin, mereka seharusnya menghindari bersikap dalam tata cara yang akan memprovokasi sisi jahat mukmin lain. Di dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan sebagai berikut:
“Dan katakanlah kepada para hambaku-Ku: "Hendaklah mereka berbicara dengan ucapan yang sebaik-baiknya" dalam berdakwah. Bahwasanya setan itu suka menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya antara setan dan manusia terbentang permusuhan sejak dahulu.” (Isra: 53)
Ayat di atas secara meyakinkan memberikan sebuah pesan penting. Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk saling menegur menggunakan cara terbaik yang mungkin dilakukan (bukan hanya "baik" tapi "terbaik") sebab setan juga bertujuan menciptakan pertikaian diantara orang beriman.
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah bertengkar sesamamu, nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Dan tabahlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.” (Al-Anfal: 46)
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa seorang mukmin seharusnya tidak pernah membiarkan persaingan maupun pertikaian terjadi diantara saudara-saudaranya mengingat persaingan dan pertikaian adalah sifat dasar orang primitif. Seorang mukmin dituntut untuk tidak menimbulkan rasa iri pada diri orang lain. Karenanya sifat rendah hatilah yang dapat membasmi persaingan diantara orang beriman. Sifat kunci lainnya yang ditekankan di dalam Al-Qur'an adalah pengorbanan diri. Seorang mukmin selalu memberikan prioritas kepada kebutuhan dan keinginan orang mukmin lainnya atas dasar kesalehan dan kesenangan berbuat demikian.
Pada dasarnya, persaingan, rasa iri, dan sikap suka berdebat adalah tiga faktor dasar yang merupakan ancaman serius terhadap pemeliharaan rasa persaudaraan dan solidaritas diantara orang mukmin. Sifat suka bersaing yang mungkin ditimbulkan oleh ambisi benar-benar merusak ikatan persaudaraan, merusak jiwa, dan menjerumuskan pelakunya kepada kemunduran moral.
Perselisihan maupun perdebatan diantara orang mukmin akan merusak keseluruhan perjuangan, mengurangi persatuan dan kekuatan orang mukmin namun menguatkan perjuangan, menambah persatuan dan kekuatan orang kafir. Jika terus begini, penganiayaan oleh orang kafir terhadap orang mukmin akan terjadi kecuali kalau orang mukmin saling melindungi satu sama lain. Al-Qur'an membuat pengamatan berikut: “Adapun orang-orang yang kafir, mereka bersetia kawan terhadap sesamanya dalam menghadapi kaum mukmin. Jika kamu tidak menggalang kesetiakawanan pula seperti mereka, akan terjadilah kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini”. (Al-Anfal: 73)
Berikut ini adalah perintah-perintah tegas di dalam Al-Qur'an mengenai persaudaraan dan persatuan diantara orang mukmin:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang- sengketa sesudah datang kepada mereka bukti yang terang! Untuk mereka disediakan siksaan yang besar.” (Al-Imran: 105).

”Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Jawablah "Bahwa yang berhak menentukan pembagian harta rampasan perang itu, ialah Allah dan Rasul. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, peliharalah hubungan baik sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Al-Anfal:1)
”Sesungguhnya orang-orang yang berpecah-belah dalam agamanya, sehingga mereka menjadi beberapa golongan, tidaklah hal itu menjadi tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, untuk kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat.” (An-An'am: 159)
Seorang mukmin diharuskan untuk saling berkasih sayang antar sesama. Kerendah-hatian adalah sifat khusus orang mukmin. Sedangkan kesombongan dan rasa iri bukanlah sifat orang mukmin melainkan sifat orang kafir. Dengan demikian, orang mukmin seharusnya menghindari jeratan sisi jahat jiwanya dan secara terus-menerus memohon perlindungan Allah, bertobat serta berjanji untuk berubah. Adapun kesudahan yang menanti orang yang tidak mengekang sisi jahat jiwanya digambarkan di dalam surat al-Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara kerena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat.”
Semua muslim adalah bersaudara. Karena itu, jika bertengkar mereka harus bersatu kembali dan bersaudara seperti biasanya. Hal ini diperkuat oleh larangan Rasulullah SAW terhadap permusuhan antar muslim. Abu Ayyub Al-Anshary meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorang muslim memutuskan silaturrahmi dengan saudara muslimnya lebih dari tiga malam yang masing-masingnya saling membuang muka bila berjumpa. Yang terbaik diantara mereka adalah yang memulai mengucapkan salam kepada yang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

C. AL-KHULASHAH WAL IKHTITAM
Sebagai seorang mukmin kita harus memperhatikan nasib saudara kita yang seiman dan seagama. Karena kita disuruh oleh Allah untuk berlaku seperti itu, ”fa ashlihuu bayna akhawaikum”. Selain dinilai ibadah, persaudaraan yang baik merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian kita terhadap sesama. Kalau ada seseorang yang membutuhkan bantuan kita, maka hendaknya kita membantunya, niscaya Allah akan membantu kita dalam menghadapi masalah yang kita hadapi. Dan bantuan Allah itu bisa langsung dari Allah atau melalui perantara makhlukya.
Kita adalah manusia yang tak lepas dari kesalahan dan kekhilafan, dari sinilah diperlukan nasihat dan kesabaran dalam menghadapi problematika umat. Oleh sebab itu, kita harus saling menasehati kepada saudara kita yang berlaku kurang pantas atau janggal di dalam bermasyarakat agar ia keluar dari lembah hitam dan menuju cahaya terang benderang.
Adapun terhadap non-muslim hendaknya kita toleran kepada mereka, jangan saling mengejek dan acuh tak acuh, akan tetapi kita membangun wacana dalam kehidupan bermasyarakat yang berbeda pemahaman dan keyakinan. Namun kita tetap konsisten mengakui bahwa agama islam adalah agama yang terbaik. Kita dibolehkan toleransi dalam hal muamalah saja, bukan toleransi masalah akidah, kita tetap berusaha mengajak mereka untuk menuju kepada kebenaran hakiki.
Menghargai mereka adalah solusi tepat agar tidak terjadi kekacauan dan ketidakharmonisan dalam bermasyarakat. Kita berusaha mengaplikasikan firman Allah, ”Inna ad-diina ’inda Allah al-islam” dengan ”lakum dienukum waliya dien”. ”Lakum dienukum waliya dien” itu ditafsirkan oleh Imam Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitabnya ”Shafwatu at-Tafaasiir” dengan ”Lakum Syirkukum waliya tauhiidie”, yang artinya bagimu kesyirikan-mu dan bagiku ketauhidan-ku (kepada Allah). Dengan ini dapat kita ambil benang merah yaitu kita harus mengajak mereka untuk berjalan di atas agama Allah (islam). Dakwah tetap kita jalankan, meskipun bukan dengan lisan tapi dengan prilaku, ucapan kita di hadapa mereka. Dengan persaudaran yang baik seperti di atas, insyallah kita akan menuai hasilnya (kebaikan di dunia dan akhirat). Wallahu A’lamu bi ash-Shawab


D. DAFTAR PUSTAKA
Al-Banjari, Muhammad Arsyad, Sabilal Muhtadin, Kairo: Dar-el Kutub , 1311 H.
Jawahir, Thontomi, islam, politik, dan hukum. Yogyakarta : Madyan Press,cet. 1, 2002.
Foster, George M, Traditional Society and Technological Change, Second Edition, New York, Harps-row Publisher, 1973.
Al-Hassan, Ahmad Y, Factors Behind The Decline of Islamic Science
Aidh Al-Qarni, Laa Tahzan, .
Suharto & Tata Iryanto, Kamus bahasa Indonesia terbaru, Surabaya :.indah, 2004.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Shafwatu At-Tafasir, Surabaya : Dar-el Kutub Al-Islami, 2001.
Fachrurrozy, Mohammad, Mutiara Qalbu, Jakarta : Pustaka Al-Husna Baru, 2006.
Abu, Ameenah, Menolak Tafsir Bid’ah, Bandung : Bilal Phillips, 2004
Asy’ari, Hasyim, Sang Kiai, Yogyakarta : Qalam, cet I, 2005.
Al-Kumayi, Sulaiman, Menuju Hidup Sukses, Semarang : Pustaka Nuun, 2005.

1 komentar:

  1. Thankz yaa,,,
    udah bantu, postingnya pas ama tugas saya..:)

    BalasHapus